Saturday, September 19, 2026

Lahan Gambut di Kalimantan Tengah: Ekosistem, Fungsi Lingkungan, dan Ancaman Kebakaran


Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem penting di wilayah tropis yang memiliki karakteristik unik, terutama karena terbentuk dari akumulasi bahan organik berupa sisa-sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan secara tidak sempurna dalam kondisi jenuh air. Kondisi anaerob tersebut menyebabkan proses dekomposisi berlangsung sangat lambat sehingga bahan organik dapat terakumulasi selama ribuan tahun. Kalimantan merupakan salah satu wilayah penting bagi keberadaan ekosistem gambut di Indonesia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gambut di Kalimantan memiliki sejarah pembentukan yang beragam, baik pada wilayah pesisir maupun pedalaman, dengan perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi. Stabilitas tata air menjadi faktor penting dalam mempertahankan kemampuan gambut untuk menyimpan karbon dalam jangka panjang.

Secara ekologis, lahan gambut memiliki fungsi yang sangat besar. Ekosistem ini berperan sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, habitat berbagai jenis flora dan fauna, serta penyedia jasa ekosistem bagi masyarakat. Dalam kondisi alami, gambut memiliki kandungan air yang tinggi sehingga proses penguraian bahan organik berlangsung lambat. Kondisi tersebut memungkinkan karbon tersimpan dalam lapisan gambut selama ratusan hingga ribuan tahun. Penelitian menunjukkan bahwa ekosistem gambut tropis menyimpan cadangan karbon yang sangat besar karena lingkungan jenuh air dapat mempertahankan bahan organik dari proses dekomposisi secara cepat.

Namun demikian, karakteristik gambut yang kaya bahan organik sekaligus menjadikannya rentan terhadap kebakaran ketika mengalami pengeringan. Perubahan tata guna lahan sering disertai pembangunan kanal drainase yang berfungsi menurunkan muka air tanah agar lahan dapat digunakan untuk kegiatan tertentu. Ketika muka air tanah turun terlalu dalam, lapisan gambut menjadi lebih kering dan lebih mudah terbakar. Pada kondisi musim kemarau panjang, risiko tersebut semakin meningkat. Penelitian di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa drainase dan kekeringan dapat menyebabkan muka air tanah turun secara signifikan, sehingga meningkatkan kerentanan gambut terhadap kebakaran.

Kebakaran pada lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat dan membara secara perlahan di dalam lapisan gambut. Kondisi ini menyebabkan kebakaran sulit dideteksi dan dipadamkan secara sempurna. Bahkan setelah api permukaan berhasil dipadamkan, bagian gambut yang masih membara dapat kembali menimbulkan api ketika kondisi kembali kering. Oleh sebab itu, pengendalian kebakaran gambut tidak cukup hanya dilakukan melalui pemadaman api di permukaan, tetapi harus disertai pengelolaan tata air dan peningkatan kelembapan lapisan gambut.

Kondisi tersebut menjadi sangat relevan bagi Kalimantan Tengah, khususnya wilayah sekitar Palangka Raya dan kawasan gambut di sekitarnya. Kajian mengenai pencemaran udara akibat kebakaran gambut di Palangka Raya menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi berbagai polutan udara dan menghasilkan episode pencemaran udara yang berlangsung cukup lama. Kebakaran gambut juga berkontribusi terhadap terbentuknya kabut asap yang dapat menurunkan kualitas udara serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Dampak kebakaran gambut juga berkaitan erat dengan perubahan iklim. Ketika gambut yang telah menyimpan karbon selama ribuan tahun terbakar, karbon tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer dalam bentuk karbon dioksida dan gas lainnya. Penelitian terhadap kebakaran gambut di Palangka Raya pada tahun 2019 memperkirakan bahwa kebakaran pada wilayah yang dikaji menghasilkan emisi sekitar 34,9 ± 0,9 Tg CO, 5,3 ± 0,6 Tg CO, serta sekitar 0,6 ± 0,3 Tg PM, pada skala estimasi penelitian tersebut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kebakaran gambut bukan hanya persoalan lokal berupa kerusakan lahan, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap kualitas udara dan neraca karbon regional.

Aktivitas manusia merupakan salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Pembukaan lahan, pembangunan jaringan kanal, perubahan tutupan lahan, aktivitas pertanian, penggunaan api, serta kegiatan lainnya dapat mengubah kondisi ekologis dan hidrologis gambut. Literatur ilmiah menunjukkan bahwa deforestasi, drainase, kebakaran berulang, dan konversi lahan dapat menyebabkan kehilangan karbon, penurunan kemampuan penyimpanan karbon, perubahan hidrologi, serta peningkatan risiko kebakaran.

Karena itu, pengelolaan lahan gambut harus menempatkan tata air sebagai salah satu aspek utama. Upaya pembasahan kembali atau rewetting, pembangunan sekat kanal, revegetasi, pemantauan muka air tanah, pencegahan sumber api, serta penguatan sistem peringatan dini merupakan bagian penting dalam strategi pengelolaan gambut. Penelitian terbaru di Kalimantan menunjukkan bahwa restorasi hidrologi melalui penyekatan kanal dapat mengurangi kejadian kebakaran pada area yang memperoleh pembasahan secara efektif, meskipun keberhasilannya bergantung pada kondisi lokasi dan cakupan pengaruh pembasahan.

Dengan demikian, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan munculnya api. Kebakaran merupakan hasil interaksi antara kondisi ekologis gambut, perubahan tata air, musim kemarau, kondisi cuaca, tutupan vegetasi, dan aktivitas manusia. Ketika gambut yang secara alami basah mengalami drainase, kemudian menghadapi periode kering yang panjang dan terdapat sumber api, tingkat kerentanannya dapat meningkat secara signifikan.

Pengelolaan gambut yang berkelanjutan pada akhirnya harus berorientasi pada mempertahankan kondisi hidrologis alami, mencegah pengeringan berlebihan, mengurangi sumber api, serta memulihkan ekosistem yang telah mengalami degradasi. Pendekatan tersebut penting bukan hanya untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi gambut sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, habitat keanekaragaman hayati, dan penyangga kehidupan masyarakat. Dengan menjaga gambut tetap basah dan sehat, risiko kebakaran dapat ditekan sekaligus mempertahankan fungsi ekologisnya bagi generasi mendatang.

Referensi ilmiah utama

  1. Anshari, G. Z., et al. (2026). Peatland inception and development across Kalimantan, Indonesia. Scientific Reports, 16, 5496.
  2. Treby, S., Graham, L. L. B., Ningsih, S. N. A., Thomas, A., & Grover, S. P. P. (2026). Soil hydrology in a drained tropical peatland in Central Kalimantan, Indonesia: Implications for land management. Pedosphere.
  3. Bowen, J. C., et al. (2024). Canal networks regulate aquatic losses of carbon from degraded tropical peatlands. Nature Geoscience, 17, 213–218.
  4. Asyhari, A., et al. (2024). Quantifying the fluxes of carbon loss from an undrained tropical peatland ecosystem in Indonesia. Scientific Reports, 14, 11459.
  5. Ohkubo, S., Hirano, T., & Kusin, K. (2021). Influence of fire and drainage on evapotranspiration in a degraded peat swamp forest in Central Kalimantan, Indonesia. Journal of Hydrology, 603, 126906.
  6. Peat-fire-related air pollution in Central Kalimantan, Indonesia. Environmental Pollution, 195, 257–266 (2014).
  7. Anthropogenic impacts on lowland tropical peatland biogeochemistry. Nature Reviews Earth & Environment, 3, 426–443 (2022).
  8. Effective restoration can avoid peatland fires: Large scale counterfactual assessment in Kalimantan, Indonesia. iScience, 29 (2026), 116041.