Senin, 21 September 2026

Biologi Sintetis: Merancang Kehidupan dengan Prinsip Rekayasa Biologi

Biologi Sintetis: Merancang Kehidupan dengan Prinsip Rekayasa Biologi

Ilustrasi biologi sintetis yang menggabungkan prinsip biologi, genetika, rekayasa biologis, dan teknologi komputasi.

Biologi sintetis atau synthetic biology merupakan salah satu bidang ilmu biologi modern yang berkembang pesat melalui integrasi biologi molekuler, genetika, biokimia, ilmu komputer, teknik, dan prinsip rekayasa. Berbeda dari pendekatan biologi tradisional yang terutama bertujuan memahami sistem kehidupan yang telah ada, biologi sintetis berusaha merancang, membangun, memodifikasi, dan menguji sistem biologis agar memiliki fungsi tertentu.

Konsep tersebut menjadikan sel bukan hanya sebagai objek penelitian, tetapi juga sebagai sistem biologis yang dapat direkayasa. Para ilmuwan dapat memanfaatkan DNA, gen, protein, enzim, jalur metabolisme, maupun sistem regulasi genetik untuk menghasilkan karakteristik atau produk biologis tertentu.

🔬 Tahukah Kamu?

Biologi sintetis tidak hanya berkaitan dengan pembuatan DNA. Bidang ini mencakup proses yang lebih luas, mulai dari perancangan rangkaian genetik, konstruksi sistem biologis, pengujian kinerja sistem, hingga optimalisasi berdasarkan data eksperimen.

Apa Itu Biologi Sintetis?

Secara konseptual, biologi sintetis dapat dipahami sebagai pendekatan interdisipliner untuk merancang atau merekayasa sistem biologis baru maupun memodifikasi sistem biologis yang sudah ada menggunakan prinsip rekayasa.

Dalam pendekatan ini, komponen biologis dapat diperlakukan seperti komponen dalam suatu sistem rekayasa. Gen dapat berperan sebagai instruksi, promotor sebagai elemen pengatur ekspresi gen, sedangkan protein dan enzim dapat menjalankan fungsi tertentu dalam jaringan biologis.

Komponen Utama dalam Biologi Sintetis

Komponen Peran Contoh Pemanfaatan
DNA Menyimpan informasi genetik. Konstruksi genetik dan penyimpanan informasi biologis.
Gen Menyediakan informasi untuk menghasilkan produk biologis tertentu. Produksi protein, enzim, atau metabolit.
Promotor Mengatur tingkat dan kondisi ekspresi gen. Pengendalian ekspresi gen dalam sel.
RNA Berperan dalam proses ekspresi dan regulasi informasi genetik. Regulasi ekspresi gen dan sintesis protein.
Protein Menjalankan berbagai fungsi struktural dan biokimia. Enzim, reseptor, regulator, dan protein terapeutik.
Enzim Mengkatalisis reaksi biokimia. Produksi metabolit dan senyawa bioteknologi.
Genom Keseluruhan materi genetik suatu organisme. Rekayasa genom dan pengembangan organisme dengan fungsi tertentu.

Prinsip Design–Build–Test–Learn dalam Biologi Sintetis

Salah satu pendekatan penting dalam biologi sintetis adalah siklus Design–Build–Test–Learn (DBTL). Pendekatan ini menggambarkan proses iteratif yang digunakan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan sistem biologis.

1. Design Merancang sistem atau rangkaian biologis berdasarkan tujuan tertentu.
2. Build Membangun konstruksi biologis yang telah dirancang.
3. Test Menguji performa sistem melalui eksperimen.
4. Learn Menganalisis data untuk memperbaiki rancangan berikutnya.

Siklus tersebut dapat dilakukan berulang kali. Data hasil eksperimen digunakan untuk memperbaiki desain sehingga sistem biologis yang dikembangkan menjadi semakin sesuai dengan tujuan penelitian.

Perbedaan Biologi Sintetis dan Rekayasa Genetika

Biologi sintetis memiliki hubungan erat dengan rekayasa genetika, tetapi keduanya tidak sepenuhnya identik. Rekayasa genetika umumnya berfokus pada perubahan materi genetik suatu organisme, sedangkan biologi sintetis memiliki cakupan lebih luas dengan menambahkan pendekatan desain dan rekayasa sistem biologis.

Aspek Rekayasa Genetika Biologi Sintetis
Fokus Modifikasi materi genetik. Perancangan dan rekayasa sistem biologis.
Pendekatan Mengubah atau memasukkan materi genetik tertentu. Merancang sistem biologis berdasarkan prinsip desain dan rekayasa.
Ruang lingkup Umumnya berfokus pada modifikasi organisme. Mencakup gen, jaringan genetik, metabolisme, sel, hingga sistem biologis.
Proses Modifikasi dan pengujian. Design–Build–Test–Learn.

DNA Sintetis dan Perancangan Sistem Genetik

Salah satu teknologi penting dalam biologi sintetis adalah kemampuan untuk merancang dan memperoleh DNA sintetis. DNA sintetis merupakan urutan DNA yang dibuat berdasarkan rancangan tertentu menggunakan teknologi sintesis DNA.

Teknologi tersebut memungkinkan peneliti menyusun urutan genetik dengan tingkat presisi yang semakin tinggi. DNA yang dirancang kemudian dapat digunakan dalam penelitian ekspresi gen, rekayasa metabolisme, konstruksi rangkaian genetik, dan berbagai aplikasi bioteknologi.

Catatan ilmiah:

Pembuatan DNA sintetis tidak berarti menciptakan kehidupan secara langsung. DNA merupakan salah satu komponen sistem kehidupan dan fungsinya bergantung pada konteks seluler, lingkungan molekuler, serta interaksi dengan berbagai komponen biologis lainnya.

Aplikasi Biologi Sintetis

Perkembangan biologi sintetis telah membuka peluang penerapan pada berbagai bidang, termasuk kesehatan, pangan, pertanian, industri, lingkungan, dan produksi bahan kimia berbasis biologis.

1. Biologi Sintetis dalam Bidang Kesehatan

Dalam bidang kesehatan, biologi sintetis dapat digunakan untuk mengembangkan sistem biologis yang menghasilkan senyawa terapeutik, merancang sistem penghantaran tertentu, serta mempelajari mekanisme penyakit pada tingkat molekuler.

Pendekatan ini juga berpotensi mendukung pengembangan terapi berbasis sel dan sistem biologis yang dapat dirancang untuk menjalankan fungsi tertentu.

2. Biologi Sintetis untuk Pangan

Biologi sintetis dapat digunakan untuk mengembangkan mikroorganisme penghasil senyawa yang digunakan dalam industri pangan, termasuk komponen rasa, aroma, pigmen, protein, dan metabolit tertentu.

3. Biologi Sintetis dalam Pertanian

Dalam pertanian, pendekatan sintetik dapat digunakan untuk mempelajari dan merekayasa sifat biologis tanaman maupun mikroorganisme yang berinteraksi dengan tanaman.

Pengembangan sistem biologis tersebut dapat diarahkan pada peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya, ketahanan terhadap tekanan lingkungan, dan produksi senyawa bernilai ekonomi.

4. Biologi Sintetis untuk Lingkungan

Salah satu bidang yang menarik adalah pemanfaatan mikroorganisme yang direkayasa untuk membantu proses bioremediasi. Mikroorganisme tertentu dapat dikembangkan untuk memiliki kemampuan metabolisme yang relevan dengan penguraian atau transformasi senyawa tertentu.

Potensi lingkungan: Biologi sintetis dapat mendukung pengembangan sistem biologis untuk bioremediasi, biosensor, pengolahan limbah, dan produksi material berbasis hayati. Namun penerapannya tetap membutuhkan kajian biosafety dan pengendalian terhadap pelepasan organisme hasil rekayasa.

Sel sebagai Biological Factory

Salah satu konsep penting dalam biologi sintetis adalah penggunaan sel sebagai biological factory atau pabrik biologis.

Sel memiliki berbagai jalur metabolisme yang secara alami digunakan untuk menghasilkan energi dan molekul yang dibutuhkan untuk kehidupan. Melalui rekayasa metabolisme, jalur tersebut dapat dimodifikasi agar sel menghasilkan senyawa tertentu dalam jumlah atau komposisi yang diinginkan.

Pendekatan ini dikenal sebagai metabolic engineering dan menjadi salah satu bidang yang memiliki hubungan erat dengan biologi sintetis.

Peran Artificial Intelligence dalam Biologi Sintetis

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan machine learning semakin memperluas kemampuan biologi sintetis. Data biologis yang sangat besar dapat dianalisis menggunakan pendekatan komputasi untuk membantu peneliti memahami hubungan antara urutan genetik dan fungsi biologis.

AI juga dapat digunakan untuk membantu proses prediksi, optimasi desain biologis, analisis data eksperimen, serta identifikasi pola yang sulit ditemukan menggunakan analisis konvensional.

Integrasi AI dengan biologi sintetis berpotensi mempercepat siklus Design–Build–Test–Learn karena proses desain dapat dibantu oleh model komputasi sebelum dilakukan pengujian eksperimental.

Genom Minimal dan Pertanyaan tentang Kehidupan

Salah satu pertanyaan fundamental dalam biologi sintetis adalah: berapa banyak informasi genetik minimum yang diperlukan agar sebuah sel dapat mempertahankan kehidupan?

Penelitian mengenai genom minimal berusaha mengidentifikasi gen-gen yang sangat penting bagi fungsi dasar sel. Kajian tersebut tidak hanya bermanfaat bagi biologi sintetis, tetapi juga membantu ilmuwan memahami mekanisme fundamental kehidupan.

🧬 Tahukah Kamu?

Konsep genom minimal menunjukkan bahwa tidak semua gen dalam organisme seluler memiliki fungsi yang sama pentingnya untuk mempertahankan fungsi dasar sel. Sebagian gen berperan dalam fungsi inti, sedangkan lainnya dapat berkaitan dengan adaptasi terhadap lingkungan tertentu.

Tantangan, Biosafety, dan Biosecurity

Kemampuan untuk merancang sistem biologis juga menimbulkan tantangan ilmiah, etika, dan keselamatan. Sistem biologis memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi sehingga hasil rekayasa tidak selalu dapat diprediksi sepenuhnya.

Kompleksitas Sistem Biologis

Gen dan protein tidak bekerja secara terpisah. Keduanya berinteraksi dalam jaringan molekuler yang kompleks. Perubahan satu komponen dapat memengaruhi berbagai proses biologis lainnya.

Evolusi dan Stabilitas Sistem

Organisme hidup memiliki kemampuan untuk bereplikasi dan mengalami perubahan genetik. Sistem biologis yang dirancang di laboratorium dapat mengalami perubahan ketika berada dalam kondisi berbeda.

Biosafety

Biosafety berkaitan dengan upaya mencegah dampak biologis yang tidak diinginkan terhadap manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan selama penelitian maupun penerapan teknologi biologis.

Biosecurity

Biosecurity berkaitan dengan pencegahan penyalahgunaan material, informasi, teknologi, atau sistem biologis yang dapat menimbulkan risiko. Karena itu, perkembangan biologi sintetis perlu disertai tata kelola, pengawasan, dan praktik penelitian yang bertanggung jawab.

Masa Depan Biologi Sintetis

Biologi sintetis diperkirakan akan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi sequencing, sintesis DNA, pengeditan genom, otomatisasi laboratorium, robotika, komputasi, dan kecerdasan buatan.

Integrasi berbagai teknologi tersebut dapat menghasilkan pendekatan baru dalam desain sistem biologis yang semakin terukur dan terotomatisasi. Laboratorium masa depan dapat menggabungkan robotika, analisis data, AI, dan eksperimen biologis dalam satu siklus pengembangan.

Meskipun demikian, kemajuan teknologi perlu berjalan seiring dengan pemahaman mengenai batas biologis, keselamatan, etika penelitian, biosecurity, dan dampak ekologis.

Kesimpulan

Biologi sintetis merupakan bidang interdisipliner yang menggunakan prinsip biologi dan rekayasa untuk merancang serta membangun sistem biologis dengan fungsi tertentu. Bidang ini memanfaatkan berbagai komponen biologis, seperti DNA, gen, RNA, protein, enzim, dan jaringan metabolisme.

Pendekatan Design–Build–Test–Learn menjadi salah satu kerangka penting dalam pengembangan sistem biologis sintetis. Penerapannya mencakup kesehatan, pangan, pertanian, industri, lingkungan, hingga pengembangan sistem biologis berbasis komputer.

Pada saat yang sama, perkembangan teknologi tersebut perlu diiringi dengan prinsip biosafety, biosecurity, etika, dan tata kelola yang bertanggung jawab. Dengan demikian, biologi sintetis tidak hanya menjadi teknologi untuk memahami kehidupan, tetapi juga menjadi pendekatan untuk merancang fungsi biologis baru secara sistematis.

FAQ Biologi Sintetis

Apa yang dimaksud dengan biologi sintetis?

Biologi sintetis adalah bidang interdisipliner yang menggabungkan biologi dan prinsip rekayasa untuk merancang, membangun, menguji, dan mengoptimalkan sistem biologis dengan fungsi tertentu.

Apa perbedaan biologi sintetis dan rekayasa genetika?

Rekayasa genetika umumnya berfokus pada modifikasi materi genetik, sedangkan biologi sintetis memiliki cakupan yang lebih luas dan menggunakan prinsip desain serta rekayasa sistem biologis.

Apa saja aplikasi biologi sintetis?

Aplikasinya antara lain bidang kesehatan, pangan, pertanian, industri, lingkungan, produksi metabolit, bioremediasi, dan pengembangan sistem biologis baru.

Apa itu Design–Build–Test–Learn?

Design–Build–Test–Learn atau DBTL merupakan pendekatan iteratif yang terdiri atas perancangan sistem, pembangunan konstruksi biologis, pengujian, dan pembelajaran dari data hasil eksperimen.

Apakah biologi sintetis sama dengan menciptakan kehidupan?

Tidak secara sederhana. Biologi sintetis merupakan bidang yang merancang atau merekayasa komponen dan sistem biologis. Sistem kehidupan sendiri memiliki kompleksitas yang jauh lebih besar daripada satu komponen genetik atau molekuler.

Referensi Ilmiah

  1. Benner, S. A., & Sismour, A. M. (2005). Synthetic biology. Nature Reviews Genetics, 6, 533–543.
  2. Cameron, D. E., Bashor, C. J., & Collins, J. J. (2014). A brief history of synthetic biology. Nature Reviews Microbiology, 12, 381–390.
  3. Khalil, A. S., & Collins, J. J. (2010). Synthetic biology: Applications come of age. Nature Reviews Genetics, 11, 367–379.
  4. Nielsen, J., & Keasling, J. D. (2016). Engineering cellular metabolism. Cell, 164(6), 1185–1197.
  5. Meng, F., & Ellis, T. (2020). The second decade of synthetic biology. Nature Communications, 11.
Informasi untuk pembaca:

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan pengenalan konsep biologi sintetis. Perkembangan teknologi dan regulasi dapat berubah sehingga pembaca perlu merujuk pada literatur ilmiah terbaru untuk informasi penelitian dan penerapan spesifik.

```

Sabtu, 19 September 2026

Lahan Gambut di Kalimantan Tengah: Ekosistem, Fungsi Lingkungan, dan Ancaman Kebakaran


Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem penting di wilayah tropis yang memiliki karakteristik unik, terutama karena terbentuk dari akumulasi bahan organik berupa sisa-sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan secara tidak sempurna dalam kondisi jenuh air. Kondisi anaerob tersebut menyebabkan proses dekomposisi berlangsung sangat lambat sehingga bahan organik dapat terakumulasi selama ribuan tahun. Kalimantan merupakan salah satu wilayah penting bagi keberadaan ekosistem gambut di Indonesia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gambut di Kalimantan memiliki sejarah pembentukan yang beragam, baik pada wilayah pesisir maupun pedalaman, dengan perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi. Stabilitas tata air menjadi faktor penting dalam mempertahankan kemampuan gambut untuk menyimpan karbon dalam jangka panjang.

Secara ekologis, lahan gambut memiliki fungsi yang sangat besar. Ekosistem ini berperan sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, habitat berbagai jenis flora dan fauna, serta penyedia jasa ekosistem bagi masyarakat. Dalam kondisi alami, gambut memiliki kandungan air yang tinggi sehingga proses penguraian bahan organik berlangsung lambat. Kondisi tersebut memungkinkan karbon tersimpan dalam lapisan gambut selama ratusan hingga ribuan tahun. Penelitian menunjukkan bahwa ekosistem gambut tropis menyimpan cadangan karbon yang sangat besar karena lingkungan jenuh air dapat mempertahankan bahan organik dari proses dekomposisi secara cepat.

Namun demikian, karakteristik gambut yang kaya bahan organik sekaligus menjadikannya rentan terhadap kebakaran ketika mengalami pengeringan. Perubahan tata guna lahan sering disertai pembangunan kanal drainase yang berfungsi menurunkan muka air tanah agar lahan dapat digunakan untuk kegiatan tertentu. Ketika muka air tanah turun terlalu dalam, lapisan gambut menjadi lebih kering dan lebih mudah terbakar. Pada kondisi musim kemarau panjang, risiko tersebut semakin meningkat. Penelitian di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa drainase dan kekeringan dapat menyebabkan muka air tanah turun secara signifikan, sehingga meningkatkan kerentanan gambut terhadap kebakaran.

Kebakaran pada lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat dan membara secara perlahan di dalam lapisan gambut. Kondisi ini menyebabkan kebakaran sulit dideteksi dan dipadamkan secara sempurna. Bahkan setelah api permukaan berhasil dipadamkan, bagian gambut yang masih membara dapat kembali menimbulkan api ketika kondisi kembali kering. Oleh sebab itu, pengendalian kebakaran gambut tidak cukup hanya dilakukan melalui pemadaman api di permukaan, tetapi harus disertai pengelolaan tata air dan peningkatan kelembapan lapisan gambut.

Kondisi tersebut menjadi sangat relevan bagi Kalimantan Tengah, khususnya wilayah sekitar Palangka Raya dan kawasan gambut di sekitarnya. Kajian mengenai pencemaran udara akibat kebakaran gambut di Palangka Raya menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi berbagai polutan udara dan menghasilkan episode pencemaran udara yang berlangsung cukup lama. Kebakaran gambut juga berkontribusi terhadap terbentuknya kabut asap yang dapat menurunkan kualitas udara serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Dampak kebakaran gambut juga berkaitan erat dengan perubahan iklim. Ketika gambut yang telah menyimpan karbon selama ribuan tahun terbakar, karbon tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer dalam bentuk karbon dioksida dan gas lainnya. Penelitian terhadap kebakaran gambut di Palangka Raya pada tahun 2019 memperkirakan bahwa kebakaran pada wilayah yang dikaji menghasilkan emisi sekitar 34,9 ± 0,9 Tg CO, 5,3 ± 0,6 Tg CO, serta sekitar 0,6 ± 0,3 Tg PM, pada skala estimasi penelitian tersebut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kebakaran gambut bukan hanya persoalan lokal berupa kerusakan lahan, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap kualitas udara dan neraca karbon regional.

Aktivitas manusia merupakan salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Pembukaan lahan, pembangunan jaringan kanal, perubahan tutupan lahan, aktivitas pertanian, penggunaan api, serta kegiatan lainnya dapat mengubah kondisi ekologis dan hidrologis gambut. Literatur ilmiah menunjukkan bahwa deforestasi, drainase, kebakaran berulang, dan konversi lahan dapat menyebabkan kehilangan karbon, penurunan kemampuan penyimpanan karbon, perubahan hidrologi, serta peningkatan risiko kebakaran.

Karena itu, pengelolaan lahan gambut harus menempatkan tata air sebagai salah satu aspek utama. Upaya pembasahan kembali atau rewetting, pembangunan sekat kanal, revegetasi, pemantauan muka air tanah, pencegahan sumber api, serta penguatan sistem peringatan dini merupakan bagian penting dalam strategi pengelolaan gambut. Penelitian terbaru di Kalimantan menunjukkan bahwa restorasi hidrologi melalui penyekatan kanal dapat mengurangi kejadian kebakaran pada area yang memperoleh pembasahan secara efektif, meskipun keberhasilannya bergantung pada kondisi lokasi dan cakupan pengaruh pembasahan.

Dengan demikian, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan munculnya api. Kebakaran merupakan hasil interaksi antara kondisi ekologis gambut, perubahan tata air, musim kemarau, kondisi cuaca, tutupan vegetasi, dan aktivitas manusia. Ketika gambut yang secara alami basah mengalami drainase, kemudian menghadapi periode kering yang panjang dan terdapat sumber api, tingkat kerentanannya dapat meningkat secara signifikan.

Pengelolaan gambut yang berkelanjutan pada akhirnya harus berorientasi pada mempertahankan kondisi hidrologis alami, mencegah pengeringan berlebihan, mengurangi sumber api, serta memulihkan ekosistem yang telah mengalami degradasi. Pendekatan tersebut penting bukan hanya untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi gambut sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, habitat keanekaragaman hayati, dan penyangga kehidupan masyarakat. Dengan menjaga gambut tetap basah dan sehat, risiko kebakaran dapat ditekan sekaligus mempertahankan fungsi ekologisnya bagi generasi mendatang.

Referensi ilmiah utama

  1. Anshari, G. Z., et al. (2026). Peatland inception and development across Kalimantan, Indonesia. Scientific Reports, 16, 5496.
  2. Treby, S., Graham, L. L. B., Ningsih, S. N. A., Thomas, A., & Grover, S. P. P. (2026). Soil hydrology in a drained tropical peatland in Central Kalimantan, Indonesia: Implications for land management. Pedosphere.
  3. Bowen, J. C., et al. (2024). Canal networks regulate aquatic losses of carbon from degraded tropical peatlands. Nature Geoscience, 17, 213–218.
  4. Asyhari, A., et al. (2024). Quantifying the fluxes of carbon loss from an undrained tropical peatland ecosystem in Indonesia. Scientific Reports, 14, 11459.
  5. Ohkubo, S., Hirano, T., & Kusin, K. (2021). Influence of fire and drainage on evapotranspiration in a degraded peat swamp forest in Central Kalimantan, Indonesia. Journal of Hydrology, 603, 126906.
  6. Peat-fire-related air pollution in Central Kalimantan, Indonesia. Environmental Pollution, 195, 257–266 (2014).
  7. Anthropogenic impacts on lowland tropical peatland biogeochemistry. Nature Reviews Earth & Environment, 3, 426–443 (2022).
  8. Effective restoration can avoid peatland fires: Large scale counterfactual assessment in Kalimantan, Indonesia. iScience, 29 (2026), 116041.

Kamis, 17 November 2022

Klasifikasi Sampah

 Menurut (Hadiwiyoto, 1983), klasifikasi sampah berdasarkan sifatnya dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu :

1. Sampah organik, yaitu sampah yang terdiri dari daun-daunan, kayu, kertas, karton, tulang, sisa-sisa makanan ternak, sayur dan buah. Sampah organik adalah sampah yang mengandung senyawa-senyawa organik yang tersusun oleh unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Bahan-bahan ini mudah di degradasi oleh mikrobia.


2. Sampah anorganik, yaitu sampah yang terdiri dari kaleng, plastik, besi dan logam-logam lainnya, gelas, mika atau bahan-bahan yang tidak tersusun oleh senyawa-senyawa organik. Sampah ini tidak dapat terdegradasi oleh mikrobia.

Menurut (Hadiwiyoto, 1983), berdasarkan lokasinya, sampah dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yaitu :

1. Sampah kota (urban) yaitu sampah yang terkumpul di kota-kota besar.

2. Sampah daerah, yaitu sampah yang terkumpul di daerah-daerah di luar perkotaan, misalnya di desa, di daerah permukiman dan di pantai.

Senin, 14 November 2022

Pengertian Sampah

 Menurut (Azwar, 1990), sampah adalah sesuatu yang tidak dipergunakan lagi, yang tidak dapat dipakai lagi, yang tidak disenangi dan harus dibuang, maka sampah tentu saja harus dikelola dengan sebaik-baiknya, sedemikian rupa sehingga hal-hal yang negatif bagi kehidupan tidak sampai terjadi.

Menurut (Kodoatie, 2003), mendefinisikan sampah adalah limbah atau buangan yang ber
sifat padat, setengah padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan (refuse) sebenarnya hanya sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak menganggu kelangsungan hidup.

Menurut SK SNI T-13-1990 F, yang dimaksud dengan sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi bangunan. Sampah perkotaan adalah sampah yang timbul di kota dan tidak termasuk sampah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Menurut (Hadiwiyoto, 1983), mendefinisikan sampah adalah sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuan-perlakuan baik karena telah diambil bagian utamanya atau karena pengolahan atau karena sudah sudah tidak ada manfaatnya yang ditinjau dari segi ekonomis tidak ada harganya dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau gangguan kelestarian.

Berdasarkan beberapa pengertian tentang sampah seperti di atas maka dapat didefinisikan sampah adalah sisa bahan, limbah atau buangan yang bersifat padat, setengah padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiatan atau siklus kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan

Selasa, 26 April 2022

Kumbang gelembung (famili Dytiscidae)


Ciri-ciri: Bentuk tubuh oval memanjang, antenna panjang, filiform. Kaki belakang pipih dan berumbai rambut-rambut, mempunyai scutellum. Berwarna hitam, coklat dan kekuning-kuningan, sering dengan warna cerah pada bagian tertentu. Ukuran panjang tubuh sekitar 1,4-3,5 mm. Ditemukan di kolam atau aliran air yang tenang. Sering mengambil udara dari permukaan air dan menyimpannya dalam gelembung udara dibawah elytra.


Bantu blog ini untuk tetap eksis dengan KLIK DISINI