Sistem Pencernaan pada Hewan: Struktur, Fungsi, dan Adaptasi
Sistem pencernaan pada hewan merupakan rangkaian organ dan proses fisiologis yang berfungsi menerima makanan, memecah molekul kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana, menyerap nutrien, serta mengeluarkan sisa makanan yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh.
Struktur sistem pencernaan sangat beragam di antara hewan. Perbedaan tersebut berkaitan erat dengan jenis makanan, habitat, ukuran tubuh, strategi memperoleh makanan, serta sejarah evolusi masing-masing kelompok hewan.
1. Pengertian Sistem Pencernaan pada Hewan
Sistem pencernaan adalah sistem organ yang memungkinkan hewan mengubah makanan menjadi zat yang dapat digunakan untuk memperoleh energi, membangun jaringan, memperbaiki sel, dan menjalankan berbagai proses fisiologis.
Makanan yang masuk ke tubuh umumnya mengandung karbohidrat, protein, lipid, vitamin, mineral, air, dan berbagai senyawa lainnya. Sebagian besar makromolekul tersebut tidak dapat langsung diserap dalam bentuk aslinya sehingga harus mengalami proses pencernaan.
Secara umum, proses pencernaan melibatkan empat tahap utama:
- Ingesti – pemasukan makanan ke dalam tubuh.
- Pencernaan – pemecahan makanan secara mekanik dan kimiawi.
- Absorpsi – penyerapan nutrien hasil pencernaan.
- Egesti atau eliminasi – pengeluaran sisa makanan yang tidak tercerna.
2. Fungsi Sistem Pencernaan
| Fungsi | Penjelasan |
|---|---|
| Ingesti | Menerima makanan dari lingkungan. |
| Pencernaan mekanik | Menghancurkan makanan menjadi bagian yang lebih kecil secara fisik. |
| Pencernaan kimiawi | Menguraikan molekul kompleks menggunakan enzim dan zat kimia lainnya. |
| Absorpsi | Menyerap nutrien, air, elektrolit, dan molekul hasil pencernaan. |
| Transport | Memindahkan makanan dan hasil pencernaan sepanjang saluran pencernaan. |
| Eliminasi | Mengeluarkan material yang tidak tercerna atau tidak dapat dimanfaatkan. |
3. Pencernaan Mekanik dan Kimiawi
Pencernaan Mekanik
Pencernaan mekanik merupakan proses penghancuran makanan tanpa mengubah identitas kimianya secara langsung.
Contohnya adalah pengunyahan makanan oleh gigi, gerakan lambung, serta kontraksi otot saluran pencernaan.
Pencernaan Kimiawi
Pencernaan kimiawi menggunakan enzim dan zat kimia untuk mengubah makromolekul menjadi molekul yang lebih sederhana.
| Makromolekul | Produk Pencernaan Utama |
|---|---|
| Karbohidrat | Monosakarida, terutama glukosa |
| Protein | Asam amino dan peptida kecil |
| Lipid | Asam lemak dan monoasilgliserol |
| Asam nukleat | Nukleotida dan komponennya |
4. Tipe Sistem Pencernaan pada Hewan
Berdasarkan organisasi saluran pencernaannya, sistem pencernaan hewan dapat dibedakan menjadi beberapa tipe.
4.1 Pencernaan Intraseluler
Pencernaan intraseluler berlangsung di dalam sel. Makanan ditangkap dan dimasukkan ke dalam vesikel, kemudian dicerna menggunakan enzim di dalam kompartemen seluler.
Sistem seperti ini ditemukan pada hewan dengan organisasi tubuh sederhana, misalnya beberapa kelompok hewan yang belum memiliki saluran pencernaan kompleks.
4.2 Rongga Gastrovaskular
Rongga gastrovaskular merupakan ruang pencernaan yang memiliki satu lubang yang berfungsi sebagai tempat masuk makanan sekaligus keluarnya sisa makanan.
Contohnya terdapat pada Cnidaria dan beberapa kelompok hewan lainnya.
4.3 Saluran Pencernaan Lengkap
Hewan dengan sistem pencernaan lengkap memiliki dua lubang yang berbeda, yaitu mulut dan anus.
Keuntungan sistem ini adalah makanan bergerak satu arah sehingga berbagai bagian saluran dapat mengalami spesialisasi fungsi.
💡 Tahukah Kamu?
Saluran pencernaan lengkap memungkinkan hewan melakukan proses makan dan pembuangan sisa secara lebih terorganisasi karena makanan bergerak satu arah melalui organ yang memiliki fungsi berbeda.
5. Organ Utama Sistem Pencernaan Vertebrata
Pada vertebrata, sistem pencernaan umumnya terdiri atas saluran pencernaan dan organ aksesori.
| Organ | Fungsi Utama |
|---|---|
| Mulut | Pemasukan dan pemrosesan awal makanan. |
| Gigi | Memotong, merobek, dan menggiling makanan. |
| Lidah | Membantu manipulasi makanan dan proses menelan. |
| Faring | Menyalurkan makanan dari rongga mulut menuju esofagus. |
| Esofagus | Mengangkut makanan menuju lambung. |
| Lambung | Menyimpan dan mengolah makanan secara mekanik serta kimiawi. |
| Usus halus | Tempat utama pencernaan lanjutan dan absorpsi nutrien. |
| Usus besar | Absorpsi air dan elektrolit serta pembentukan feses pada banyak vertebrata. |
| Rektum | Penyimpanan sementara sisa pencernaan sebelum eliminasi. |
| Anus/kloaka | Pengeluaran sisa pencernaan. |
6. Mulut dan Rongga Mulut
Mulut merupakan pintu masuk makanan. Pada hewan yang memiliki struktur gigi, makanan dapat mengalami pemrosesan mekanik sebelum masuk ke bagian saluran pencernaan berikutnya.
Gigi dapat mengalami spesialisasi sesuai jenis makanan. Herbivora umumnya memiliki struktur gigi yang mendukung pemotongan atau penggilingan tumbuhan, sedangkan karnivora memiliki gigi yang lebih sesuai untuk menangkap dan merobek jaringan hewan.
7. Esofagus
Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan faring dengan lambung atau organ pencernaan berikutnya.
Pergerakan makanan melalui esofagus dibantu oleh peristaltik, yaitu kontraksi terkoordinasi otot dinding saluran pencernaan.
8. Lambung
Lambung berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara dan pengolahan makanan. Pada banyak vertebrata, lambung menghasilkan asam dan enzim yang membantu pencernaan.
Keasaman lambung membantu denaturasi protein serta menciptakan kondisi yang sesuai bagi aktivitas enzim tertentu.
Pada beberapa hewan, lambung mengalami modifikasi ekstrem untuk menyesuaikan jenis makanan.
9. Usus Halus
Usus halus merupakan bagian penting dari sistem pencernaan karena sebagian besar proses pencernaan kimiawi dan absorpsi nutrien berlangsung di bagian ini pada mamalia.
Permukaan usus yang luas meningkatkan kemampuan penyerapan. Pada mamalia, permukaan tersebut diperluas oleh lipatan, vili, dan mikrovili.
Semakin luas permukaan epitel yang berhubungan dengan isi usus, semakin besar potensi permukaan untuk melakukan absorpsi nutrien.
10. Usus Besar
Usus besar memiliki fungsi yang berkaitan dengan absorpsi air dan elektrolit serta pengolahan sisa makanan. Pada banyak hewan, mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan juga berkontribusi terhadap metabolisme senyawa yang tidak dicerna oleh enzim hewan.
11. Organ Aksesori Pencernaan
Selain saluran pencernaan, vertebrata memiliki organ aksesori yang membantu proses pencernaan.
| Organ | Peranan |
|---|---|
| Kelenjar ludah | Menghasilkan saliva dan pada beberapa hewan menghasilkan enzim pencernaan. |
| Hati | Menghasilkan empedu dan berperan penting dalam metabolisme serta detoksifikasi. |
| Kantung empedu | Menyimpan dan memekatkan empedu pada hewan yang memilikinya. |
| Pankreas | Menghasilkan enzim pencernaan dan sekresi lain yang mendukung pencernaan. |
12. Peran Enzim dalam Pencernaan
Enzim pencernaan mempercepat reaksi hidrolisis yang menguraikan makromolekul menjadi komponen yang lebih sederhana.
| Enzim | Substrat | Produk |
|---|---|---|
| Amilase | Pati | Oligosakarida/disakarida |
| Pepsin | Protein | Peptida |
| Tripsin dan protease lain | Protein/peptida | Peptida lebih kecil dan asam amino |
| Lipase | Trigliserida | Asam lemak dan monoasilgliserol |
| Disakaridase | Disakarida | Monosakarida |
13. Sistem Pencernaan Herbivora
Herbivora memperoleh sebagian besar makanan dari tumbuhan. Tantangan fisiologis utama pada pencernaan herbivora adalah pemanfaatan komponen dinding sel tumbuhan, terutama selulosa.
Sebagian besar hewan tidak menghasilkan enzim selulase dalam jumlah yang memadai untuk mencerna selulosa sendiri. Oleh karena itu, banyak herbivora bergantung pada mikroorganisme simbion yang menghasilkan enzim pemecah polisakarida struktural.
Fermentasi pada Herbivora
Fermentasi mikroba dapat menghasilkan asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
14. Sistem Pencernaan Ruminansia
Ruminansia memiliki sistem lambung yang sangat terspesialisasi. Pada sapi, kambing, dan domba, lambung terdiri atas empat kompartemen utama:
| Kompartemen | Fungsi |
|---|---|
| Rumen | Fermentasi mikroba dan penyimpanan makanan. |
| Retikulum | Membantu pemilahan partikel dan pembentukan bolus untuk ruminasi. |
| Omasum | Membantu absorpsi air, mineral, dan senyawa tertentu. |
| Abomasum | Bagian lambung yang menghasilkan sekresi asam dan enzim. |
15. Sistem Pencernaan Herbivora Nonruminansia
Beberapa herbivora, seperti kuda dan kelinci, melakukan fermentasi mikroba terutama di bagian belakang saluran pencernaan.
Pada tipe ini, fermentasi berlangsung terutama di sekum dan/atau kolon. Sistem tersebut disebut hindgut fermentation.
16. Sistem Pencernaan Karnivora
Karnivora memperoleh makanan terutama dari jaringan hewan. Dibandingkan herbivora, makanan karnivora umumnya lebih mudah dicerna dari sisi protein dan lipid, sedangkan kebutuhan untuk fermentasi selulosa relatif rendah.
Karena itu, banyak karnivora memiliki saluran pencernaan yang relatif lebih sederhana dibandingkan herbivora dengan sistem fermentasi yang sangat berkembang.
17. Sistem Pencernaan Omnivora
Omnivora mengonsumsi kombinasi makanan tumbuhan dan hewan. Sistem pencernaannya dapat memperlihatkan karakteristik yang memungkinkan pemanfaatan berbagai jenis nutrien.
Manusia merupakan contoh omnivora. Saluran pencernaan manusia mampu mencerna pati, protein, lipid, serta sebagian komponen tumbuhan, meskipun manusia tidak dapat mencerna selulosa secara enzimatik.
18. Perbandingan Herbivora, Karnivora, dan Omnivora
| Karakteristik | Herbivora | Karnivora | Omnivora |
|---|---|---|---|
| Makanan dominan | Tumbuhan | Hewan | Tumbuhan dan hewan |
| Selulosa | Penting dalam diet | Umumnya rendah | Bervariasi |
| Fermentasi mikroba | Sering sangat penting | Umumnya lebih terbatas | Bervariasi |
| Spesialisasi gigi | Pemotongan/penggilingan | Penangkapan/merobek | Kombinasi |
| Contoh | Sapi, kambing, kuda | Kucing, banyak predator | Manusia, babi |
19. Sistem Pencernaan pada Burung
Burung memiliki sistem pencernaan yang beradaptasi dengan kebutuhan metabolisme tinggi dan karakteristik tubuhnya.
Beberapa bagian penting meliputi tembolok, proventrikulus, ventrikulus atau ampela, usus, dan kloaka.
Tembolok
Tembolok merupakan pelebaran esofagus pada banyak burung yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara makanan.
Proventrikulus
Proventrikulus merupakan bagian lambung yang menghasilkan sekresi pencernaan.
Ventrikulus atau Ampela
Ampela memiliki dinding otot yang kuat dan membantu menghancurkan makanan secara mekanik. Pada burung tertentu, material keras seperti grit dapat membantu proses penggilingan makanan.
20. Sistem Pencernaan pada Ikan
Sistem pencernaan ikan bervariasi menurut jenis makanan dan kelompok evolusionernya.
Ikan herbivora, karnivora, dan omnivora dapat memiliki perbedaan panjang usus, ukuran lambung, serta struktur mulut yang mencerminkan jenis makanan yang dikonsumsi.
Ikan yang memakan tumbuhan umumnya membutuhkan sistem yang lebih mendukung pemrosesan material tumbuhan dibandingkan predator yang mengonsumsi jaringan hewan.
21. Sistem Pencernaan pada Amfibi
Amfibi dewasa seperti katak umumnya memiliki saluran pencernaan lengkap yang terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, usus, rektum, dan kloaka.
Larva atau berudu memiliki strategi makan yang dapat berbeda dari individu dewasa. Perubahan pola makan selama metamorfosis menunjukkan hubungan erat antara perkembangan tubuh dan sistem pencernaan.
22. Sistem Pencernaan pada Reptil
Reptil memiliki sistem pencernaan yang secara umum terdiri atas saluran pencernaan lengkap dan organ aksesori. Namun, terdapat variasi besar antara kelompok herbivora, karnivora, dan omnivora.
Beberapa reptil herbivora memiliki saluran belakang yang mendukung fermentasi mikroba, sedangkan predator dapat memiliki saluran yang relatif lebih sederhana.
23. Sistem Pencernaan pada Mamalia
Mamalia menunjukkan keragaman sistem pencernaan yang sangat besar. Perbedaan tersebut dapat diamati pada struktur gigi, panjang saluran pencernaan, ukuran sekum, konfigurasi lambung, dan keberadaan ruang fermentasi.
Adaptasi tersebut memungkinkan mamalia memanfaatkan sumber makanan yang berbeda-beda.
24. Sistem Pencernaan pada Invertebrata
Tidak semua hewan memiliki sistem pencernaan yang kompleks. Struktur pencernaan invertebrata sangat beragam.
| Kelompok | Karakteristik Pencernaan |
|---|---|
| Porifera | Pencernaan terutama berlangsung secara intraseluler. |
| Cnidaria | Memiliki rongga gastrovaskular dengan satu bukaan. |
| Platyhelminthes | Sistem pencernaan pada banyak kelompok memiliki percabangan dan satu bukaan. |
| Annelida | Memiliki saluran pencernaan lengkap dan terspesialisasi. |
| Mollusca | Umumnya memiliki saluran pencernaan lengkap dan organ aksesori. |
| Arthropoda | Memiliki saluran pencernaan lengkap dengan bagian-bagian yang sangat terspesialisasi. |
| Echinodermata | Memiliki variasi sistem pencernaan sesuai kelompok dan pola makan. |
25. Sistem Pencernaan pada Arthropoda
Arthropoda memiliki saluran pencernaan lengkap yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian dengan fungsi berbeda.
Pada serangga, misalnya, saluran pencernaan secara umum mencakup foregut, midgut, dan hindgut.
Midgut merupakan lokasi penting bagi pencernaan dan absorpsi, sedangkan hindgut berperan dalam pengaturan air dan ion serta pembentukan material sisa.
26. Peran Mikrobiota dalam Pencernaan
Saluran pencernaan banyak hewan dihuni oleh komunitas mikroorganisme yang dikenal sebagai mikrobiota gastrointestinal.
Mikroorganisme tersebut dapat membantu memecah komponen makanan yang sulit dicerna oleh enzim hewan sendiri.
Pada herbivora tertentu, aktivitas mikroba bahkan menjadi komponen fundamental dalam memperoleh energi dari bahan tumbuhan.
💡 Tahukah Kamu?
Pencernaan pada banyak herbivora sebenarnya merupakan hasil kerja sama antara hewan dan komunitas mikroorganisme di saluran pencernaannya. Mikroorganisme dapat menghasilkan enzim yang membantu memecah polisakarida struktural tumbuhan.
27. Adaptasi Sistem Pencernaan terhadap Jenis Makanan
Struktur sistem pencernaan merupakan hasil interaksi antara kebutuhan fisiologis dan sumber makanan yang tersedia di lingkungan.
Beberapa bentuk adaptasi meliputi:
- perubahan bentuk dan susunan gigi;
- perbedaan panjang usus;
- perkembangan lambung atau ruang fermentasi;
- perubahan ukuran sekum;
- perubahan komunitas mikrobiota;
- perubahan aktivitas enzim pencernaan.
28. Hubungan Panjang Usus dan Jenis Makanan
Panjang dan kompleksitas saluran pencernaan dapat berkaitan dengan karakter makanan, tetapi hubungan tersebut tidak bersifat sederhana atau universal.
Makanan yang sulit dicerna, terutama makanan kaya material struktural tumbuhan, sering membutuhkan waktu retensi dan fermentasi yang lebih besar. Karena itu, banyak herbivora memiliki adaptasi saluran pencernaan yang mendukung fermentasi mikroba.
29. Absorpsi Nutrien
Setelah makanan dipecah menjadi molekul yang dapat diserap, nutrien melewati epitel saluran pencernaan menuju lingkungan internal tubuh.
| Nutrien | Bentuk yang Diserap | Pemanfaatan |
|---|---|---|
| Karbohidrat | Monosakarida | Energi dan biosintesis |
| Protein | Asam amino dan peptida kecil | Sintesis protein dan metabolisme |
| Lipid | Asam lemak, monoasilgliserol, dan produk lipid lainnya | Energi, membran, dan sinyal |
| Vitamin | Bentuk vitamin yang tersedia | Koenzim dan regulasi metabolisme |
| Mineral | Ion mineral | Struktur dan fungsi fisiologis |
| Air | H2O | Medium berbagai reaksi dan regulasi fisiologis |
30. Regulasi Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan tidak bekerja secara otomatis tanpa koordinasi. Aktivitasnya dikendalikan melalui interaksi antara sistem saraf, hormon, otot polos, dan berbagai sinyal lokal.
Gerakan peristaltik dan segmentasi membantu mencampur serta menggerakkan isi saluran pencernaan.
Selain itu, hormon gastrointestinal membantu mengatur sekresi, motilitas, pengosongan lambung, dan respons organ aksesori.
31. Efisiensi Pencernaan dan Metabolisme
Tujuan akhir sistem pencernaan bukan sekadar mengubah makanan menjadi molekul kecil, tetapi menyediakan substrat bagi metabolisme tubuh.
Karbohidrat dapat masuk ke jalur respirasi seluler, asam amino digunakan untuk sintesis protein dan metabolisme lainnya, sedangkan lipid dapat digunakan sebagai sumber energi sekaligus komponen membran dan molekul sinyal.
32. Hubungan Sistem Pencernaan dengan Respirasi Seluler
Nutrien yang diperoleh melalui sistem pencernaan pada akhirnya menyediakan substrat untuk metabolisme sel.
Glukosa, misalnya, dapat dioksidasi melalui glikolisis, siklus asam sitrat, dan fosforilasi oksidatif untuk menghasilkan ATP.
Dengan demikian, sistem pencernaan dan sistem respirasi memiliki hubungan fungsional yang sangat erat.
33. Perbandingan Sistem Pencernaan Berbagai Hewan
| Hewan/Kelompok | Karakteristik Pencernaan | Adaptasi Utama |
|---|---|---|
| Sapi | Ruminansia | Fermentasi mikroba pada rumen dan ruminasi |
| Kuda | Herbivora hindgut fermenter | Sekum dan kolon berkembang |
| Kucing | Karnivora | Adaptasi terhadap makanan kaya protein dan lipid |
| Manusia | Omnivora | Saluran pencernaan relatif fleksibel terhadap berbagai makanan |
| Ayam | Saluran khusus burung | Tembolok dan ampela |
| Ikan | Sangat bervariasi | Disesuaikan dengan tipe makanan dan habitat |
| Serangga | Foregut–midgut–hindgut | Spesialisasi bagian saluran pencernaan |
| Cnidaria | Rongga gastrovaskular | Satu bukaan untuk makanan dan sisa |
34. Faktor yang Memengaruhi Sistem Pencernaan
Efisiensi sistem pencernaan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
- jenis makanan;
- komposisi kimia makanan;
- ukuran partikel makanan;
- aktivitas enzim;
- pH saluran pencernaan;
- waktu retensi makanan;
- mikrobiota;
- suhu tubuh;
- status fisiologis hewan;
- ketersediaan air.
35. Evolusi Sistem Pencernaan
Perkembangan sistem pencernaan pada hewan menunjukkan peningkatan spesialisasi dari sistem yang relatif sederhana menuju sistem dengan organ yang memiliki fungsi khusus.
Namun, evolusi sistem pencernaan tidak selalu mengikuti satu arah menuju struktur yang semakin kompleks. Organisme yang berbeda dapat mengembangkan strategi pencernaan yang berbeda sesuai tekanan seleksi, makanan, dan lingkungan.
36. Kesimpulan
Sistem pencernaan pada hewan merupakan sistem fisiologis yang sangat beragam dan berhubungan erat dengan jenis makanan, habitat, ukuran tubuh, serta strategi hidup.
Hewan sederhana dapat melakukan pencernaan secara intraseluler atau menggunakan rongga gastrovaskular, sedangkan banyak hewan tingkat lebih kompleks memiliki saluran pencernaan lengkap dengan mulut dan anus serta organ-organ yang terspesialisasi.
Pada vertebrata, organ seperti mulut, lambung, usus, hati, dan pankreas bekerja secara terkoordinasi untuk mengubah makanan menjadi nutrien yang dapat diserap. Herbivora memiliki adaptasi khusus untuk memanfaatkan material tumbuhan melalui fermentasi mikroba, sedangkan karnivora dan omnivora memiliki strategi pencernaan yang sesuai dengan komposisi makanannya.
Dengan demikian, sistem pencernaan bukan hanya berfungsi sebagai “saluran makanan”, tetapi merupakan bagian integral dari metabolisme, pertumbuhan, keseimbangan energi, dan kelangsungan hidup hewan.
37. Artikel Terkait
38. FAQ Sistem Pencernaan pada Hewan
Apa yang dimaksud dengan sistem pencernaan pada hewan?
Sistem pencernaan adalah sistem organ dan proses fisiologis yang mengolah makanan menjadi molekul yang dapat diserap dan digunakan oleh tubuh.
Apa saja tahapan utama pencernaan?
Tahapan utamanya meliputi ingesti, pencernaan mekanik dan kimiawi, absorpsi, serta eliminasi sisa makanan.
Apa perbedaan herbivora dan karnivora dalam sistem pencernaan?
Herbivora umumnya memiliki adaptasi untuk memanfaatkan material tumbuhan dan sering bergantung pada fermentasi mikroba, sedangkan karnivora umumnya lebih beradaptasi terhadap makanan yang kaya jaringan hewan.
Mengapa sapi memiliki empat kompartemen lambung?
Sapi merupakan ruminansia yang memiliki sistem lambung khusus untuk mendukung fermentasi mikroba, pemrosesan makanan, dan ruminasi.
Apakah semua hewan memiliki lambung?
Tidak. Struktur sistem pencernaan sangat beragam. Beberapa hewan tidak memiliki lambung sejati seperti pada vertebrata tertentu, sementara kelompok lain memiliki struktur pencernaan yang sangat terspesialisasi.
Apa fungsi mikroorganisme dalam sistem pencernaan herbivora?
Mikroorganisme membantu memecah komponen makanan yang sulit dicerna oleh enzim hewan, termasuk polisakarida struktural tumbuhan, serta menghasilkan metabolit yang dapat dimanfaatkan oleh inangnya.
39. Referensi Ilmiah
- Campbell, N. A., Urry, L. A., Cain, M. L., et al. Campbell Biology. Pearson.
- Hill, R. W., Wyse, G. A., & Anderson, M. Animal Physiology. Sinauer Associates.
- Karasov, W. H., & Douglas, A. E. 2013. Comparative digestive physiology. Comprehensive Physiology.
- Stevens, C. E., & Hume, I. D. 1995. Comparative Physiology of the Vertebrate Digestive System. Cambridge University Press.
- McDonald, P., Edwards, R. A., Greenhalgh, J. F. D., et al. Animal Nutrition. Pearson.
- Reece, J. B., et al. Campbell Biology. Pearson.
- Raven, P. H., Johnson, G. B., Mason, K. A., Losos, J. B., & Singer, S. R. Biology. McGraw-Hill.
- Starck, J. M. 1999. Structural flexibility of the gastro-intestinal tract of the White stork, Ciconia ciconia. Journal of Experimental Biology.
- Stevens, C. E., & Hume, I. D. 2004. Comparative physiology of vertebrate digestion. Journal of Comparative Physiology B.
- Karasov, W. H., & del Rio, C. M. 2007. Physiological ecology of digestive systems. Annual Review of Physiology.

Tidak ada komentar:
Write komentar